Select Page

Perpolitikan bergerak dinamis, dengan sejumlah kecenderungan baru yang terjadidalam kurun setengah tahun. Temuan survei Voxpopuli Research Center menunjukkanPDIP tetap unggul, tetapi elektabilitasnya turun menjadi 16,7 persen.

Sebaliknya dengan Gerindra yang mengalami kenaikan elektabilitas, kini sebesar 15,2 persen. Sebelumnya elektabilitas kedua partai cenderung stabil sepanjang bulanSeptember 2002 hingga Januari 2023, hingga berubah dalam tiga bulan terakhir.

Pada urutan berikutnya Golkar yang sebelumnya sempat terkoreksi kini naik elektabilitasnya menjadi 8,8 persen, setelah. Selain itu ada Partai Solidaritas Indonesia (PSI) yang juga naik elektabilitasnya menjadi 5,7 persen.

Elektabilitas PDIP turun, sedangkan Gerindra tampak menikmati kenaikanelektabilitas,ungkap peneliti senior Voxpopuli Research Center Prijo Wasono dalamketerangan tertulis kepada pers di Jakarta, pada Minggu (9/4).

Menurut Prijo, turunnya elektabilitas PDIP terkait dengan respons sejumlah gubernurdari partai tersebut yang menolak kehadiran timnas Israel dalam rencana gelaran PialaDunia U20. FIFA akhirnya membatalkan Indonesia sebagai tuan rumah dan terancamdikenai sanksi.

Selain itu PDIP terkesan enggan mendukung pengesahan RUU Perampasan Aset,” lanjut Prijo. Padahal jika undang-undang tersebut berlaku, bisa diterapkan terhadapsejumlah kasus korupsi dan penyelewengan oleh para pejabat negara yang tengahmenyedot perhatian publik.

Meskipun turun, tetapi tetap unggulnya PDIP memberi peluang untuk mencetak rekorhattrick atau menang tiga periode berturut-turut. “Hanya saja PDIP harusmemperhitungkan skenario pencapresan yang bisa berdampak pada elektabilitaspartai,” lanjut Prijo.

Gerindra misalnya, mengalami kenaikan elektabilitas seiring dengan naiknyaelektabilitas Prabowo Subianto,” Prijo menjelaskan. Dalam dinamika terbaru, Prabowo berpeluang memimpin koalisi besar yang menggabungkan partai-partai pendukungpemerintah.

Gerindra membentuk koalisi Kebangkitan Indonesia Raya (KIR), sedangkan Golkarmemimpin Koalisi Indonesia Bersatu (KIB). Usai silaturahmi pada awal April 2023, partai-partai yang tergabung dalam KIR dan KIB menggulirkan gagasan untuk bersatudalam sebuah koalisi besar.

Merger KIR dan KIB ke dalam koalisi besar juga memberi kekuatan baru bagi Golkar, meskipun elektabilitas ketua umumnya Airlangga Hartarto masih berada di papanbawah,” jelas Prijo. Terbukti dengan efek reboundnya elektabilitas Golkar dan kembalike posisi tiga besar.

Sejumlah partai lain juga berencana turut bergabung ke dalam koalisi besar, di antaranya PSI. “Konsistensi PSI mendukung kepemimpinan Presiden Jokowi, di sampingsosialisasi masif yang telah dilakukan, mengerek kenaikan elektabilitas partai yang identik anak muda itu,” tandas Prijo.

PKB yang tergabung dalam KIR naik tipis elektabilitasnya menjadi 8,2 persen. Duapartai oposisi berada di papan tengah, yaitu Demokrat (6,0 persen) dan PKS (4,4 persen). Keduanya tergabung dalam Koalisi Persatuan dan Perubahan (KPP) yang mengusung Anies Baswedan sebagai capres.

Sayangnya, Nasdem yang paling awal mendeklarasikan pencapresan Anies masih harusberjuang untuk bisa kembali ke Senayan,” lanjut Prijo. Elektabilitas Nasdem sebesar 3,5 persen, atau di bawah ambang batas 4 persen, diikuti oleh PPP (2,3 persen) dan PAN (2,0 persen).

Partai-partai lain yang terancam tidak lolos parliamentary threshold adalah Perindo (1,5 persen), Gelora (1,4 persen), dan Ummat (1,1 persen). Selain itu ada Hanura (0,6 persen), PBB (0,4 persen), dan PKN (0,1 persen).

Garuda dan Partai Buruh nihil dukungan, sedangkan sisanya menyatakan tidaktahu/tidak jawab sebanyak 21,2 persen. “Hingga saat ini sebanyak 18 partai politiktingkat nasional yang telah dinyatakan oleh KPU berhak menjadi sebagai pesertapemilu,” pungkas Prijo.

Survei Voxpopuli Research Center dilakukan pada 2531 Maret 2023, kepada 1200 responden yang dipilih secara acak bertingkat (multistage random sampling) mewakiliseluruh provinsi di Indonesia. Margin of error survei sebesar ±2,9 persen, pada tingkatkepercayaan 95 persen. (*)