Select Page

Sepanjang paruh pertama tahun 2023, elektabilitas PDIP dan Gerindra tampak bersaingketat. Temuan survei Voxpopuli Research Center menunjukkan PDIP masih ungguldengan elektabilitas 17,1 persen, dibayangi oleh Gerindra yang terus menanjakmencapai 16,4 persen.

Kenaikan elektabilitas Gerindra dan anjloknya PDIP terjadi bersamaan dengan gejolakseputar batalnya Indonesia menjadi tuan rumah Piala Dunia U20. PDIP memangmengalami sedikit rebound, tapi masih di bawah elektabilitas pada awal tahun.

PDIP dan Gerindra kini masing-masing mempunyai capres yang bakal diusung, yaituGanjar Pranowo dan Prabowo Subianto. Di kubu perubahan, Nasdem yang mengusungAnies Baswedan makin terpuruk elektabilitasnya, kini tersisa 2,6 persen.

Elektabilitas PDIP dan Gerindra bersaing ketat di papan atas, sementara Nasdem kianterpuruk di bawah ambang batas parlemen,ungkap Direktur Komunikasi VoxpopuliResearch Center Achmad Subadja dalam keterangan tertulis kepada pers di Jakarta, pada Senin (3/7).

Menurut Achmad, persaingan ketat PDIP dan Gerindra seiring pula dengan rivalitasantara Prabowo Subianto dan Ganjar Pranowo dalam bursa capres. Hanya saja efekekor jas (coattail effect) tampaknya lebih banyak dinikmati oleh Gerindra daripadaPDIP,” tandas Achmad.

Dengan tren elektabilitas yang ada, Gerindra yang selama ini selalu berada pada peringkat kedua kini berpeluang menggeser PDIP,” lanjut Achmad. Naiknya elektabilitasGerindra didorong oleh melejitnya elektabilitas Prabowo yang telah unggul dan meninggalkan Ganjar.

Sementara itu baik PDIP maupun Ganjar yang sempat mengalami penurunanelektabilitas kini sama-sama rebound. “Keputusan PDIP mempercepat deklarasipencapresan Ganjar berhasil mengungkit kenaikan elektabilitas keduanya, meskipuntipis saja,” jelas Achmad.

Karena itu Achmad mewanti-wanti besarnya peluang Gerindra mengungguli PDIP jikaelektabilitas Prabowo terus bergerak naik. “Efek ekor jas dari pencapresan Prabowo bisamengancam peluang PDIP mencetak hattrick sekaligus memecahkan rekor sejak pasca-reformasi,” terang Achmad.

Hal ini menjadi tantangan serius bagi PDIP, lebih-lebih jika tren elektabilitas Ganjartidak cukup kuat atau bahkan stagnan. PDIP harus mencari cawapres yang bisamembantu menaikkan elektabilitas Ganjar, dan diterima oleh partai-partai yang telahberkoalisi,” Achmad mengusulkan.

Pengaruh efek ekor jas tercatat paling kuat pada partai-partai yang memiliki kader atautokoh yang diusung dalam pencapresan. Partai-partai lain yang belum memiliki figurkuat cenderung stabil, seperti partai-partai yang berada pada urutan ketiga dan seterusnya.

Golkar kembali memimpin pada posisi tiga besar dengan elektabilitas 8,5 persen, disusul PKB (7,7 persen), Demokrat (6,1 persen), PSI (5,8 persen), dan PKS (4,6 persen). Tujuh partai tersebut diprediksi lolos ke Senayan, sedangkan sisanya masihharus berjuang keras,” papar Achmad.

Termasuk di antaranya Nasdem yang notabene paling awal mengusung capres, tetapitidak bisa mendapatkan efek ekor jas yang signifikan dari pencapresan Anies. HarapanNasdem untuk mendulang dukungan dari pemilih Anies berujung mundurnya sejumlahkader,” ungkit Achmad.

Selanjutnya upaya Nasdem mengajak Demokrat dan PKS membentuk Koalisi Perubahanberjalan lambat. Hingga saat ini ketiga partai belum melakukan deklarasi pencapresanAnies secara bersama-sama karena masih terganjal soal penentuan nama figurcawapres pendamping Anies.

Belakangan Demokrat mulai membuka komunikasi dengan PDIP, melalui pertemuanPuan dan AHY. “Jika cawapres Anies tak kunjung disepakati, terbuka kemungkinanDemokrat berpindah koalisi mengusung capres yang lebih berpeluang untuk menang,” terang Achmad.

Badai persoalan yang melanda menteri-menteri Nasdem makin mempersulit upayaKoalisi Perubahan untuk mengusung Anies. “Sentimen negatif menyangkut korupsiberpotensi makin membenamkan elektabilitas Nasdem,” tegas Achmad.

Efek ekor jas justru dirasakan Nasdem seiring turunnya elektabilitas Anies, yang menyeret jebloknya partai bertajuk restorasi Indonesia itu hingga ke bawah PPP (2,8 persen) serta dibayangi oleh PAN (2,3 persen) dan Perindo (1,7 persen).

Di jajaran papan bawah ada partai-partai seperti Gelora (1,2 persen) dan Ummat (1,0 persen). Berikutnya PBB (0,7 persen), dan Hanura (0,3 persen), sedangkan PKN, Garuda, dan Buruh nihil dukungan, serta sisanya menyatakan tidak tahu/tidak jawabsebanyak 21,2 persen.

Survei Voxpopuli Research Center dilakukan pada 1521 Juni 2023, kepada 1200 responden yang dipilih secara acak bertingkat (multistage random sampling) mewakiliseluruh provinsi di Indonesia. Margin of error survei sebesar ±2,9 persen, pada tingkatkepercayaan 95 persen. (*)