Select Page

Menguatnya dukungan publik terhadap pasangan Prabowo-Gibran dalam Pilpres 2024 memberi insentif elektoral bagi Gerindra sebagai partai pengusung utamanya. Temuan survei Voxpopuli Research Center menunjukkan Gerindra berpeluang memenangkan pemilu legislatif 2024.

PDIP yang sebelum-sebelumnya selalu unggul terancam gagal membukukan lagi kemenangan untuk ketiga kalinya. Elektabilitas Gerindra terus menempel ketat hingga akhirnya unggul, mencapai 18,6 persen, terpaut tipis dari PDIP sebesar 18,0 persen.

“Gerindra berpotensi menjadi pemenang Pemilu 2024, sekaligus menggagalkan tekad PDIP untuk meraih hattrick,” ungkap Direktur Komunikasi Voxpopuli Research Center Achmad Subadja dalam keterangan tertulis kepada pers di Jakarta, pada Rabu (22/11).

Menurut Achmad, kemenangan Gerindra bakal mengakhiri dominasi PDIP selama dua pemilu berturut-turut. “Gerindra pelan-pelan naik dari peringkat ketiga menjadi kedua dalam perolehan suara, dan kini terbuka kemungkinan menduduki peringkat pertama,” tandas Achmad.

Pada debut pertama di Pemilu 2009, Gerindra menempati posisi papan tengah dengan suara berkisar 4 persen saja. “Saat itu PDIP dan Gerindra memerankan diri sebagai oposisi terhadap pemerintahan periode kedua Presiden Susilo Bambang Yudhoyono,” jelas Achmad.

PDIP dan Gerindra sama-sama mengusung Megawati Soekarnoputri berpasangan dengan Prabowo Subianto sebagai capres-cawapres. Koalisi PDIP-Gerindra berlanjut pada Pilkada DKI Jakarta 2012 yang mengorbitkan Jokowi dari kota Solo ke panggung nasional.

“Gesekan antara kedua partai mulai muncul pada Pilkada Jabar 2013, di mana masing-masing mengusung calon gubernur, hingga akhirnya berhadap-hadapan pada Pemilu 2014 dan 2019 dan memunculkan rivalitas Jokowi dan Prabowo,” terang Achmad.

Jokowi dan Prabowo kemudian melakukan rekonsiliasi, diikuti dengan bergabungnya Gerindra ke dalam pemerintahan. “Meskipun Prabowo dan Gerindra kalah dalam Pemilu 2019, tetapi Jokowi berdamai dan mengajak masuk menjadi bagian dari pemerintah,” lanjut Achmad.

Upaya Jokowi untuk menggabungkan dua kekuatan dalam Pemilu 2024 mendatang berujung buntu. “PDIP lebih memilih ngotot mengajukan Ganjar Pranowo sebagai capres alih-alih menjadi cawapres pendamping Prabowo yang didukung kuat oleh Jokowi,” Achmad menjelaskan.

Perpecahan pun tak terhindarkan, di mana Jokowi yang sebelumnya selalu diusung oleh PDIP tampak lebih berat mendukung Prabowo. “Satu per satu anggota keluarga Jokowi memilih dipecat atau bergabung dengan partai lain demi memenangkan Prabowo-Gibran,” ujar Achmad.

Selain Gerindra, pasangan Prabowo-Gibran didukung oleh banyak partai di Senayan maupun non-parlemen. Golkar masih mempertahankan peringkat ketiga dengan elektabilitas 8,7 persen, lalu ada Demokrat (6,5 persen), PSI (6,4 persen), dan PAN (3,4 persen).

Berikutnya ada Gelora (1,1 persen), PBB (0,6 persen), dan Garuda (0,1 persen). “Penamaan Koalisi Indonesia Maju (KIM) mencerminkan dukungan partai-partai tersebut terhadap pentingnya keberlanjutan program Jokowi pasca-2024,” Achmad menekankan.

Sedangkan pasangan Ganjar-Mahfud, selain PDIP hanya didukung oleh PPP (2,4 persen), Perindo (1,6 persen), dan Hanura (0,1 persen). Pasangan Anies-Muhaimin didukung oleh PKB (7,0 persen), PKS (4,3 persen), Nasdem (2,7 persen), dan Ummat (0,3 persen),” papar Achmad.

Dua partai baru memilih abstain soal dukungan terhadap capres-cawapres, yaitu PKN dan Buruh, sama-sama nihil elektabilitasnya. “Kampanye Pileg dan Pilpres akan dimulai pada akhir November hingga minggu tenang menjelang pencoblosan pada 14 Februari 2024,” pungkas Achmad.

Survei Voxpopuli Research Center dilakukan pada 9-15 November 2023, kepada 1200 responden yang dipilih secara acak bertingkat (multistage random sampling) mewakili seluruh provinsi di Indonesia. Margin of error survei sebesar ±2,9 persen, pada tingkat kepercayaan 95 persen. (*)